dampak gizi buruk bagi perkembangan balita


Nama           : Amar Rhamadan
Tingkat        : 1 A D3 Keperawatan
Mata Kuliah  : Bahasa Indonesia
Kampus       : Poltekkes Kemenkes Banten
Tugas           : Membuat Latar Belakang
(Dampak Gizi Buruk bagi Perkembangan Balita)

A . Latar Belakang

Angka gizi buruk sampai saat ini masih tinggi dan menjadi fokus perhatian dunia. Menurut data dari Food and Agriculture Organization (FAO) sekitar 870 juta orang dari 1,7 miliar penduduk dunia atau satu dari delapan orang penduduk dunia menderita gizi buruk. Sebagian besar (sebanyak 852 juta) diantaranya tinggal di negara berkembang. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan permasalahan gizi yang kompleks. Hal ini ditunjukkan dengan tingginya prevalensi stunting dan wasting. Menurut data riskesdas prevalensi gizi kurang pada tahun 2007 sebesar 18,4% kemudian mengalami penurunan pada tahun 2010 menjadi 17,9% akan tetapi mengalami peningkatan lagi menjadi 19,6% pada tahun 2013. Begitu juga prevalensi gizi buruk pada tahun 2007 5,4% dan pada tahun 2010 turun menjadi 4,9% kemudian mengalami peningkatan kembali pada tahun 2013 menjadi 5,7% (Riskesdas, 2013). Penyebab gizi buruk dan gizi kurang yang tinggi yaitu Angka kemiskinan di Indonesia yang masih tinggi yaitu sebesar 11,8% atau sekitar 28 juta penduduk. Dampak kemiskinan ini adalah tidak meratanya pembangunan sehingga pendidikan, ekonomi, sosial dan sumber daya masyarakat menjadi rendah (BPS, 2015).
Anak balita adalah anak yang telah menginjak usia di atas satu tahun atau lebih popular dengan pengertian usia anak di bawah lima tahun (Muaris. H, 2006). Masa balita merupakan periode penting dalam proses tumbuh kembang manusia. Perkembangan dan pertumbuhan di masa itu menjadi penentu keberhasilan anak di periode selanjutnya. Masa tumbuh kembang di usia ini merupakan masa yang berlangsung cepat dan tidak akan pernah terulang, karena itu sering disebut golden age atau masa keemasan (Uripi, 2004). Golden age (periode emas) merupakan periode yang sangat penting sejak janin sampai usia dua tahun. Pada dua tahun pertama kehidupan tersebut terjadi proses pertumbuhan dan perkembangan tubuh yang dimulai sejak janin. Jika pemenuhan gizi pada masa tersebut baik, maka proses pertumbuhan dan perkembangan dapat optimal. Jika kebutuhan zat gizi kurang maka dapat berisiko menimbulkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada seluruh organ dan sistem tubuh sehingga akan berdampak pada masa yang akan datang .
Menurut Depkes RI (2007) dalam Ridwan (2010), pada umumnya keluarga telah memiliki pengetahuan dasar mengenai gizi. Namun demikian, perilaku mereka terhadap perbaikan gizi keluarga masih rendah. Hal ini disebabkan karena sebagian ibu menganggap asupan makanannya selama ini cukup memadai karena tidak ada dampak buruk yang mereka rasakan.
Keadaan gizi pada tingkat keluarga sangat dipengaruhi oleh tingkat kemampuan keluarga dalam menyediakan pangan sesuai dengan kebutuhan anggota keluarga, pengetahuan dan perilaku keluarga dalam mengolah dan membagi makanan di tingkat rumah tangga (Munadhiroh, 2009). Masalah kekurangan gizi yang terjadi pada balita erat kaitannya dengan perilaku ibu, dilihat dari kebiasaan yang salah dari ibu terhadap gizi balitanya. Kurang gizi pada balita dapat juga disebabkan oleh perilaku ibu  dalam pemilihan bahan makanan yang kurang tepat. Pemilihan bahan makanan dan tersedianya jumlah makanan yang cukup dan keanekaragaman makanan dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan ibu tentang makanan dan gizinya. Ketidaktahuan ibu dapat menyebabkan kesalahan pemilihan makanan terutama untuk balita (Mardiana, 2006).
Anak yang dilahirkan dengan berat badan rendah berpotensi menjadi anak dengan gizi kurang, bahkan menjadi buruk. Gizi buruk pada balita akan berdampak pada penurunan tingkat kecerdasan atau IQ. Setiap anak yang menderita gizi buruk memiliki resiko kehilangan IQ 10-13 poin. Dampak yang diakibatkan lebih jauh lagi adalah meningkatnya kejadian kesakitan dan kematian. Pertumbuhan dan perkembangan balita selain diperoleh dari asupan energi dan protein, beberapa zat gizi mikro diperlukan terutama untuk produksi enzim, hormon, pengaturan proses biologis untuk pertumbuhan dan perkembangan, fungsi imun dan sistem reproduktif (Devi, 2010).
UNICEF (United Nations Children’s Fund) menyatakan bahwa ada dua penyebab langsung terjadinya gizi buruk, yaitu kurangnya asupan gizi dari makanan dan akibat dari terjadinya penyakit yang menyebabkan infeksi. Kurangnya asupan zat gizi dapat disebabkan oleh terbatasnya jumlah makanan yang dikonsumsi atau makanannya tidak memenuhi unsur zat gizi yang dibutuhkan. Malnutrisi yang terjadi akibat penyakit disebabkan oleh rusaknya beberapa fungsi organ tubuh sehingga tubuh tidak dapat menyerap zat-zat makanan dengan baik (Handono, 2010).
Berdasarkan hasil penelitian Munthofiah (2008), pengetahuan ibu tentang kesehatan dan cara pengasuhan anak mempunyai pengaruh yang sangat signifikan terhadap status gizi balita. Ibu yang mempunyai pengetahuan yang baik kemungkinan 17 kali lebih besar untuk memiliki balita dengan status gizi baik bila dibandingkan dengan ibu yang memiliki pengetahuan yang buruk. Perilaku ibu dalam masalah kesehatan dan pengasuhan anak dengan status gizi balita juga menunjukan adanya hubungan yang signifikan. Ibu yang perilakunya baik mempunyai kemungkinan 3 kali lebih besar untuk mempunyai balita dengan status gizi baik dibandingkan dengan ibu yang perilakunya buruk.
Dari uraian diatas dilakukan penelitian mengenai peranan pengetahuan ibu terhadap status gizi balita di Posyandu Purnabakti dan Posyandu Gang Siswa yang berada dilingkungan kampus Politeknik Kesehatan Kemenkes Banten.

Komentar